Titipan Dari Tuhan

Oleh : Rizki Fauzi

Membidik apa yang terjadi kemarin hari
Menuju kesempurnaan apa yang diciptakan.

Aku tak menghampiri pundak siapun untuk kujadikan alas dalam setiap lamunan ku, ataupun tangisan.
Menghadapi kesenduan tak perlu banyak orang, bahkan jika orang lain membutuhkan seseorang untuk menjadi pendengar, aku tidak. Mungkinkah?
Ia… Aku selalu terbiasa menghadirkan nama Tuhanku dalam kesenduan agar hatiku selalu berkata “Yarob, semoga aku senantiasa berjuang untuk merubahnya atas izinmu”

Waktu itu, semuanya berubah, seseorang yang sebelumnya tak pernah nampak dalam hidupku kini Tuhan pertemukan, bahkan saat perkenalan pun ia yang tak pernah berarti dalam hidupku, atas nama cinta kini dia hadir dalam rilisan orang terpenting dalam hidupku.
“Atas cinta kah kamu hadir? Atas tuhankah kamu ada untuk ku?
Semoga…
Aku tak ingin singgah nya dirimu hanya untuk memenuhi syarat kenormalan mu
Cinta, bukanlah sekedar ucapan”

Mungkin ini semua adalah alasan untuk membuktikan bahwa mulut mereka yang yang selalu berucap “alangkah indahnya ada bahu seseorang yang dicintai menemani kesenduan diri sendiri” Itu mungkin benar.
Kepala yang sedikitpun tak pernah miring menyender ke bahu seseorang dalam lamunan kecuali batang pohon dan dinding beton, kini ada bahu yang selalu menyebar kan wangi parfum wanita baik baik.
“Semua ini hanyalah titipan darimu
Datang tanpa diminta pun jika itu yang akan kau berikan padaku, semuanya akan aku dapatkan
Jika pemilik bahu ini memang yang kau titipkan padaku
Aku mohon, berilah cinta tanpa batas padaku agar aku bisa menyambutnya dengan cinta yang kau berikan padaku dan juga untuk menjaga titipan mu
Yarob… Bisakanlah aku dengan semua ini.
Kesempurnaan hanyalah milik mu, maka sempurna kanlah keindahan yang kini kumiliki.