TIGA PILAR KADERISASI IPNU

Mochamad Saipur Rohman_ Kelangsungan sebuah organiasi tidak bisa di lepaskan dari kaderiasi. Kaderisasi merupakan sebuah proses pencarian bakat atau pencarian sumber daya Manusia yang handal untuk melanjutkan tongkat estafet Perjuangan organisasi itu sendiri. tanpa adanya kaderisasi yang baik, maka kehancuran organisasi tersebut tinggal menunggu waktu. Setiap Organisasi membuthkan kader – kader yang demekian, organisasi dapat mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk mengembangkan diri.11
Dengan sendirinya jika muncul istilah kader, maka yang muncul pada pikiran orang adalah pemuda atau pemudi yang aktif mempersiapkan diri, membekali diri dengan berbagai pengetahuan, pengalaman organisasi, dan keterampilan tertentu untuk melanjutkan perjuangan atau misi organisasi di tempat mereka aktif. Seperti organisasi pada umumnya, pondok pesantren berusaha memberikan pengalaman maupun kegiatan tertentu, sebagai proses dalam mempersiapkan pemimpin atau kader.2
Dalam proses kaderisasi suatu oraganisasi, ada dua hal yang dapat dibedakan yaitu pelaku kaderisasi (subyek) dan sasaran kaderisasi (obyek). Subyek atau pelaku kaderisasi suatu organisasi dan kebijakannya, yang menjalankan fungsi utama regenerasi dan kesinambungan tugas-tugas organisasi. Sementara itu, obyek kaderisasi adalah orang-orang yang dipersiapkan dan dilatih untuk menruskan visi dan misi dari organisasi.
Sehingga dapat disimpulkan berdasarkan pengertian menurut para tokoh bahwa kaderisasi merupakan proses penurunan dan pemberian nilai-nilai baik nilai umum maupun khusus oleh institusi yang bersangkutan, kepada kader yang berisi materi-materi pengetahuan dan wawasan tentang Ke-IPNU-an sebagai bagian dari mempersiapkan kader di masa mendatang.

  1. Paradigma Ke-Islaman
    Ciri khas idieologi islam yang di lestarikan oleh oleh IPNU yaitu akidah akidah ahlusnnah wal jamaah ala nahdlatul Ulama yakin dengan berlandaskan pada pemikiran akidah Imam Abu Musa al-asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi.4
    Hal ini mengakibatkan sumber hukum yang digunakan organisasi ini tidak hanya Al-Qur’an dan Hadist, namun juga menggunakan akal dan realitas empirik. Dalam organisasi NU paham Ahlussunah wal Jama;ah digunakan sebagai landasan dasar dalam berfikir (Fikrah Nahdliyah). Ciri Fikrah Nahdliyah antara lain:
    a. NU berpola pikir moderat maksudnya NU, kemoderatan ini dilakukan untuk menyikapi berbagai masalah (Fikrah Tawassuthiyyah).