Pengetahuan Keorganisasian yang Dangkal dan Pola Gerakan yang Jumud

Nahdatul Ulama atau sering disingkat NU merupakan organisasi yang berlandaskan paham ahlusunnah waljamaah. Pola pikir yang diterapkan pada organisasi ini mengambil dari dua perbandingan tengah antara ekstrem aqli (rasionalis) dan ekstren naqli (skipturalis). Karena hal itu, sumber hukum NU tidak hanya al-qur’an dan sunnah saja, tetapi juga meruju pada pemikiran ulama-ulama terdahulu dalam bidang teologi, fiqih, dan tassawuf.
NU memiliki banyak badan otonom, salah satunya ialah organisasi IPNU dan IPPNU. Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama dan Ikatan Putri Pelajar Nahdatul Ulama atau disingkat IPNU IPPNU merupakan wadah bagi para pelajar yang berfaham ahlusunnah waljamaah untuk tetap mempertahankan serta meneruskan ideology yang telah digenggam erat para ulama.
IPNU dan IPPNU memiliki tujuan tinggi yaitu terbentuknya pelajar bangsa yang bertaqwa kepada Allah SWT, berilmu, berkahlak mulia dan berwawasan kebangsaan serta bertanggung jawab atas tegak dan terlaksananya faham ahlusunnah waljamaah yang berdasarkan Pancasila dan Undanga-Undang Dasar 1945. Dari tujuan tersebut dapat dilihat bahwa eksistensi dari organisasi ini yaitu kehidupan keagamaan yang diimbangi dengan kehidupan kebangsaan.
Dalam penerapan serta pelaksanaan untuk mencapi tujuan tersebut, diperlukan perjuangan serta rasa khidmat yang tinggi pada organisasi. Namun hal nyatanya, ditemukan beberapa promblematika yang selama ini telah menjadi hambatan besar. Promblematika tersebut diantaranya yaitu ;
Pertama, minimnya pemahaman serta ilmu yang dimiliki para kader mengenai keorganisasian. Para anggota IPNU dan IPPNU didominasi dari pelajar dan santri kisaran umur 16 tahun sampai 24 tahun. Banyak para kader-kader bergabung dalam organisasi ini hanya karena hanya ikut-ikut saja. Karena tujuan awal tersebut, dapat terlihat bahwasannya bekal ilmu mengenai keorganisasian para kader masih perlu dipertanyakan serta dipersiapkan. Pehamanan dan pengalaman yang belum cukup matang, telah menjadi dinding besar untuk menggerakkan serta membangun IPNU dan IPPNU yang sesungguhnya.
Kedua, pergerakkan para kader yang bersifat statis. Banyak sekali program kerja yang diciptakan oleh para kader, namun dalam langkah nyatanya kurang terlaksanakan. Perjuangan yang dapat dikatakan membakar hanya diawal saja menjadi penghambat ketika perjuangan yang terus menrus harus berlanjut. Pergerakkan yang dilakukanpun hanya itu-itu saja. IPNU IPPNU butuh pergerakkan yang baru yang memiliki eksistensi tinggi dalam kehidupan intelektual. Gerakkan yang klasik ini yang menjadikan keaktifan para kader bersifat statis.
Dalam menyikapi serta menghadapi problematika tersebut diperlukan sikap lebih memahami serta mendalami fungsional hadirnya organisasi IPNU IPPNU.
Para kader perlu menanamkan rasa cinta yang lebih dalam lagi untuk mendongkrak dinding penghalang yang membatasi langkah-langkah pergerakkan. Seperti kata yang terserat dalam mars IPNU “Dengan berpedoman kita belajar berjuang serta bertaqwa”. Konsep tiga B (Belajar, Berjuang, Bertaqwa) merupakan kalimat yang memiliki begitu banyak makna, selalu terucap setiap berkumpul, namun krisis akan keteladanan pada konsep tersebut.
Belajar merupakan langkah awal dan bahan dasar untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi serta melangkah untuk maju. Belajar berfokuskan pada pencarian ilmu serta

mendapatkan ilmu. Meski minimnya pemahaman serta ilmu yang dimiliki para kader bila ditumbuhkan rasa ingin belajar yang tinggi dalam hal keorganisasian, ini dapat merubah roda statis menjadi dinamis.
Berjuang adalah sebuah tindakan keras untuk mencapai tujuan. Seperti lirik maras IPPNU “ilmu ku cari amal ku beri”. Pada kalimat tersebut dapat diartikan bahwa ilmu yang telah didapat dalam proses belajar harus teramalkan dalam sebuah perjuangan. Perjuangan yang dimaksuk yaitu dalam konteks pengembangan agama demi tercipta penerus bangsa yang mulia dalam menyiapkan masa depan bangsa.
Bertaqwa adalah pemikiran yang mentaati perintah Allah SWT. Para kader IPNU IPPNU harus memiliki keimanan serta ketaqwaan. Bertaqwa merupakan tujuan utama dari organisasi IPNU IPPNU. Tersirat kalimat yaitu “Sujud kepala kepada Tuhan tegak tepala lawan derita”. Dalam hal apapun serta dimanapun dalam hati perlu diteguhkan untuk tetap tunduk dan mentaati Perintah Allah SWT.
Para kader IPNU dan IPPNU akan menjadi generasi emas dimasa depan bila kedua problematika tersebut dapat dipecahkan serta terselesaikan. Meski hal yang lumrah dalam setiap organisasi terdapat berbagai permasalahan, namun keduanya telah menjadi penghambat besar berkembangnya gerakan IPNU IPPNU dan hal ini perlu dimusnahkan. Visi misi dibuat bukan untuk formalitas saja dalam sebuah organisasi melainkan menjadi dasar serta acuan dalam target pergerakkan.
Para kader IPNU IPPNU diharapkan dapat menjadi generasi yang berdiri kuat yang memiliki kualitas diri tinggi serta bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Namun untuk terbentuk generasi tersebut, perlu ditanamkan kembali rasa cinta untuk terus berkhidmat serta memperjuangkan NU dikalangan masyarakat dan pelajar. Bila tujuan tidak dapat terlaksanakan dengan sempura, maka generasi emas yang unggul tidak akan tercipta.