CYBERBULLYING SEBAGAI DAMPAK NEGATIF DARI ERA DISRUPSI

Di era disrupsi seperti saat ini, dimana banyak perubahan terjadi sedemikian tidak terduga, mendasar dan hampir dalam semua aspek kehidupan. Dunia hari ini sedang menghadapi fenomena dimana pergerakan dunia tidak lagi berjalan linear. Tatanan baru hadir menggantikan tatanan lama yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman. Disrupsi menginisiasi lahirnya model interaksi baru yang lebih inovatif dan massif. Cakupan perubahannya luas mulai dari dunia usaha, perbankan, transportasi, sosial kemasyarakatan, pendidikan hingga politik. Oleh sebab itu era ini melahirkan dua pilihan penting yakni berubah atau punah.
Tidak diragukan lagi, disrupsi akan mendorong terjadinya digitalisasi sistem sosial kemasyarakatan. Munculnya inovasi aplikasi teknologi digital akan menginspirasi lahirnya aplikasi sejenis di bidang sosial kemasyaraktan. Seperti Silaturahmi antar tetangga yang sudah tergantikan oleh silaturahmi secara online. Oleh sebab itu, dengan banyaknya perubahan budaya sosial yang ada di masyarakat yang disebabkan oleh teknologi maka antropologi sebagai ilmu yang mempelajari mengenai manusia baik dari segi budaya, perilaku, sifat dan sebagainya melahirkan cabang ilmu baru yaitu antropologi digital.
Sejatinya digitalisasi telah membuka ruang seluas-luasnya untuk kita berinteraksi serta memberikan kebebasan dalam menyampaikan aspirasi. Kementerian Komunikasi dan Informatika (kemenkominfo) mengungkapkan bahwa pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang. Dari angka tersebut, sebanyak 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial. Maka dari itu tidak heran jika banyak sekali kasus mengenai aktivitas “menggoda” (flirting), bercakap-cakap, dan mengeluh (complaining) tentang pemerintahan di media sosial, jauh lebih tinggi di Indonesia dibandingkan dengan banyak negara lain. Selain itu, kasus digitalisasi yang sedang marak diperbincangkan sekarang ini adalah cyberbullying (penindasan dunia maya) yaitu suatu bentuk intimidasi modern yang dilakukan menggunakan bentuk kontak elektronik seperti facebook, instagram, youtube, dll.
Yang menjadi pertanyaan, hal apa sajakah yang melatar belakangi terjadinya cyber bullying?, lalu dampak apa saja yang dirasakan oleh korban yang mengalami cyberbullying?, serta bagaimana sikap yang tepat dalam merespon kasus cyberbullying tersebut? Pertanyaan- pertanyaan ini yang akan dibahas pada essay ini.

Sejatinya hal yang melatarbelakangi terjadinya cyberbullying adalah bagaimana anak-anak melampiaskan rasa frustasi mereka melalui bullying kepada teman-teman sebayanya. Tindakan ini pada dasarnya lebih bisa dikontrol jika perilaku itu terjadi pada interaksi tatap muka. Namun, semenjak teknologi berkembang dan melahirkan telepon pintar serta internet dengan media sosialnya, menyebabkan perilaku tersebut sulit dikontrol. Contoh pelecehan yang termasuk cyberbullying yaitu flaming, harassment, denigration, impersonation, outing and trickery, dan cyberstalking. Perilaku cyberbullying anak dikatakan tinggi jika anak pernah melakukan (menjadi pelaku) atau mengalami (menjadi korban) perilaku cyberbullying yang telah disebutkan diatas. Sebaliknya, perilaku cyberbullying anak dikatakan rendah jika anak tidak pernah melakukan (menjadi pelaku) atau mengalami (menjadi korban) perilaku cyberbullying.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerjasama dengan UNICEF pada tahun 2011 hingga 2013 yang dirilis Februari 2014, menyatakan sebagian besar remaja di Indonesia telah menjadi korban cyberbullying.
Dampak yang terjadi akibat cyberbullying adalah korban mengalami depresi, kecemasan, ketidaknyamanan, prestasi di sekolah menurun, tidak mau bergaul dengan teman-teman sebaya, menghindar dari lingkungan sosial, dan adanya upaya bunuh diri. cyberbullying yang dialami remaja secara berkepanjangan akan menimbulkan stress berat, melumpuhkan rasa percaya diri sehingga memicunya untuk melakukan tindakan-tindakan menyimpang seperti mencontek, membolos, kabur dari rumah, bahkan sampai minum-minuman keras atau menggunakan narkoba. Cyberbullying juga dapat membuat mereka menjadi murung, dilanda rasa khawatir, dan selalu merasa bersalah dan gagal. Sedangkan dampak yang paling menakutkan adalah apabila korban cyberbullying berpikir untuk mengakhiri hidupnya (bunuh diri) karena tidak mampu menghadapi masalah yang tengah dihadapinya.
Sikap yang tepat untuk merespon kasus cyberbullying yaitu dengan cara mencegah terjadinya cyberbullying, orang tua harus memberikan edukasi kepada anak-anak mereka tentang perilaku online yang benar dan aman. Orang tua juga harus melakukan pemantauan terhadap aktivitas online anak-anak mereka yang bisa dilakukan baik secara informal maupun formal. Cukup menyedihkan melihat realita yang ada, bahwa para remaja lebih sering menceritakan pengalaman mereka kepada teman-teman mereka dari pada orangtua mereka. Hal ini menandakan kurang ada hubungan dan komunikasi yang baik dan terbuka antara orangtua dengan anak. Untuk itu

orangtua harus dapat menumbuhkan dan memelihara komunikasi yang terbuka dengan anak sehingga saat mereka mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan saat menggunakan komputer atau ponsel mereka dapat menyampaikannya kepada orangtua.
Seringkali orangtua tidak mengetahui jika anak mereka mengalami cyberbullying. Oleh sebab itu orangtua harus dapat melihat tanda-tanda yang menunjukan bahwa cyberbullying telah dialami oleh anak mereka. Seorang anak mungkin telah menjadi korban dari cyberbullying jika mereka secara tiba-tiba meninggalkan dan berhenti menggunakan komputer atau ponsel, terlihat gugup jika sebuah pesan instan muncul, tidak nyaman untuk pergi ke sekolah atau keluar rumah, kelihatan marah dan depresi serta frustasi setelah menggunakan ponsel atau menjadi menarik diri dari teman-teman dan keluarganya.
Jika anak mengalami cyberbullying hal terbaik yang dapat dilakukan orangtua adalah meyakinkan bahwa mereka merasa aman dan nyaman serta memberikan dukungan yang dibutuhkan. Sebaliknya, jika anak menjadi pelaku cyberbullying maka orangtua harus mau mengingatkan dan mengajarkan sikap serta nilai moral yang positif pada anak tentang memperlakukan orang lain dengan baik. Sekolah juga memiliki tanggungjawab dalam mencegah terjadinya cyberbullying. Langkah penting yang dapat diambil sekolah adalah dengan memberikan edukasi pada komunitas sekolah tentang tanggungjawab dalam penggunaan internet dan teknologi digital yang lain. Bagi anak sendiri, penting bagi mereka untuk menjalin komunikasi dengan orang dewasa yang mereka percayai. Para penegak hukum juga memiliki peran untuk mencegah dan merespon terjadinya cyberbullying. Aturan-aturan serta hukum- hukum yang berkaitan dengan penggunaan sarana online harus diketahui dan dikuasi dengan benar. Jika terjadi tindakan cyberbullying mereka harus turun tangan sesuai dengan aturan yang berlaku, bahkan meskipun belum sampai pada level kriminal para penegak hukum harus bisa membantu dengan cara memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang seriusnya tindakan cyberbullying ini.