Hilang Arah

Hilang Arah
Oleh : Annisa Nurfitria Zajilah

Saat itu adalah hari yang indah. Langit begitu cerah, seakan membawa kedamaian yang membuat hati bahagia. Fitri menjalani hari-harinya seperti biasa. Yaa, dia duduk di bangku SMA saat ini. Seperti pelajar pada umumnya, Fitri berangkat ke sekolah dan mengikuti beberapa kegiatan ekstrakulikuler di sekolahnya.
Ekstrakulikuler marawis yang Fitri ikuti. Nurul Falah nama grup marawis di sekolah Fitri. Saat itu ada satu event yang akan diikuti oleh grup marawis Nurul Falah, yaitu lomba festival se-Provinsi. Semua teman-temannya sibuk mempersiapkan festival yang akan diikuti, tapi tidak dengan Fitri.
Tepatnya hari Selasa malam. Tiba-tiba ada chat masuk dari handphone Fitri. Siapa lagi jika bukan seseorang yang sangat ia cintai saat itu, Firman namanya.
Setiap hari Fitri selalu mendapatkan chat yang selalu membuat hatinya seakan terbang dan melayang. Setiap chat yang ia baca selalu hadir perhatian dan penuh dengan kalimat yang romantis dari Firman. Indah yaa percintaan mereka.
Namun, pada malam itu semua kata dan kalimat romantis itu seakan hancur. Tak ada lagi perhatian yang Firman lontarkan dalam chat nya kepada Fitri. Hanya kalimat pendek yang sangat menyesakkan dada Fitri malam itu.
“Maaf yah, kita selesai sampai sini”.
Sontak Fitri sangat terkejut dengan kalimat itu, berjuta pertanyaan muncul dalam benaknya, beribu kebingungan menghampiri pikirannya, dan yang paling pasti air mata yang sama sekali tak bisa terbendung lagi. Dan seakan dunia pun ikut berhenti ketika rasa sakit yang sangat hebat itu Fitri rasakan.
Tak lama Firman pun menghubungi Fitri via telpon. Tak ingin berpikir terlalu lama, Fitri langsung menerima telpon dari Firman.
“Assalamu’alaikum”. Sapa Firman saat telponnya tersambung dengan Fitri.
Dengan suara terisak, seakan sesak untuk berbicara, Fitri menjawab “Waaaa’alaikumsalam”.
“Dek, maaf…”, tak sempat Firman meneruskan kalimatnya, Fitri semakin mengencangkan tangisnya, seakan ia ingin berteriak mengatakan tidak. Namun, tak ingin salah mengira, Fitri pun bertanya “Maaf untuk apa?”.
“Untuk semuanya… Maaf Akang gak bisa lanjutin hubungan kita. Makasih buat semuanya”.
Tak kuasa untuk bicara, Fitri pun hanya bisa menangis saat mendengar Firman mengatakan itu. Seakan kebahagiaan yang ia alami hanyalah sebuah ancang-ancang untuk kecewa yang saat ini ia rasakan. Berulangkali Fitri mencoba menenangkan hati dan pikirannya, namun ia sama sekali tak bisa mengendalikannya.

Bersabung ……