Pancasila Dalam Perspektif Santri

Pada bulan Oktober tahun ini, para Santri seluruh Indonesia memperingati Hari Santri Nasional yang ditetapkan lewat Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Tanggal 22 Oktober dipilih karena merujuk pada satu peristiwa bersejarah yakni seruan yang dibacakan oleh Pahlawan Nasional KH Hasjim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Dalam sejarah tersebut tentunya ada kaitannya dengan nilai Pancasila, umtuk itu penulis akan membahas tentang nilai Pancasila dalam perspektif santri.

a. Pengertian Pancasila
Pancasila adalah pilar ideologis negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata dari Sanskerta: pañca berarti lima dan śīla berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.

Lima ideologi utama penyusun Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dan tercantum pada alinea ke-4 Preambule (Pembukaan) Undang-Undang Dasar 1945.

Sekalipun terjadi perubahan isi dan urutan lima sila Pancasila yang berlangsung dalam beberapa tahap selama masa perumusan Pancasila pada tahun 1945, tanggal 1 Juni diperingati bersama sebagai hari lahirnya Pancasila.

b. Santri
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “santri” setidaknya mengandung dua makna. Arti pertama adalah orang yang mendalami agama Islam, dan pemaknaan kedua adalah orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh atau orang yang saleh. Santri selama ini digunakan untuk menyebut kaum atau orang-orang yang sedang atau pernah memperdalam ajaran agama Islam di pondok pesantren. Kata “pesantren” oleh sebagian kalangan diyakini sebagai asal-usul tercetusnya istilah “santri.” Kendati begitu, ada cukup banyak pendapat yang memaparkan kemungkinan sejarah atau asal usul kata “santri”. Bahkan, tidak sedikit ahli yang meyakini bahwa tradisi nyantri sudah ada sejak sebelum ajaran Islam masuk ke Nusantara, atau dengan kata lain pada masa Hindu dan Buddha.

Kata “santri” terdiri dari empat huruf Arab, yakni sin, nun, ta’, dan ro’ yang masing-masing mengandung makna tersendiri dan hendaknya tercermin dalam sikap seorang santri, demikian dikutip dari buku Kiai Juga Manusia: Mengurai Plus Minus Pesantren (2009). Menurut ulama dari Pandeglang, Banten, K.H. Abdullah Dimyathy, huruf sin merujuk pada satrul al ‘awroh atau “menutup aurat”; huruf nun berasal dari istilah na’ibul ulama yang berarti “wakil dari ulama”; huruf ta’ dari tarkul al ma’ashi atau “meninggalkan kemaksiatan”; serta huruf ‘ro dari ra’isul ummah alias “pemimpin umat”.

c. Perspektif Santri terhadap Pancasila
Berdasarkan hasil penelitian Mahasiswa Fakultas Adab dan Ilmu
Budaya UIN Sunana Kaijaga Yogyakarta terhadap pemahaman santri mahasiswa
terhadap Pancasila, peneliti menemukan beberapa temuan terkait dengan pemahaman
para santri terhadap Pancasila. Secara keseluruhan mereka kurang mengetahui tentang
Pancasila baik secara umum maupun spesifik, namun untuk pengetahuan peran dan
fungsi Pancasila para santri menyadari bahwa Pancasila merupakan dasar negara
yakni sebagai pemersatu bangsa yang beraneka ragam, baik budaya, suku bangsa
maupun agama. Hasil analisis data menemukan dua tema dari perspektif santri
terhadap Pancasila ini.Pertama, bahwa santri mendukung Pancasila sebagai ideologi
negara. Kedua, santri menginginkan Pancasila dijadikan sebagai ideologi negara.
Santri mendukung Pancasila sebagai ideologi karena beberapa alasan, di
antaranya Pancasila adalah ideologi yang dihasilkan atas pemikiran tokoh-tokoh
bangsa yang sebagian juga ahli agama. Pemahaman santri mengenai Islam dikaitkan
dengan nilai-nilai Pancasila sudah baik, santri mengganggap nilai-nilai Pancasila
tidak berbenturan dengan ajaran Islam.

Mengenai pandangan santri mengenai Pancasila sebagai ideologi
negara, bahwa mereka berpendapat bahwa Pancasila sudah final. Walaupun mereka
menganggap Islam adalah agama yang kafah (paripurna) yang mengatur segala aspek
kehidupan termasuk mengatur negara, namun nilai-nilai Pancasila tidak bertentangan
dengan ajaran agama. Islam adalah rahmatan lil alamin yang menjamin toleransi,
sehingga tidak mencari-cari kesalahan ataupun perbedaan. Hal ini sebagaimana
dikemukakan dalam penelitian Danar Widiyanta dan Miftahuddin bahwa santri
selalu diajarkan sikap-sikap menghargai satu dengan yang lain, begitu pula sikap
berbangsa dan bernegara. Sikap-sikap tersebut biasanya diajarkan oleh kyai lewat
perilaku dan pemikiran-pemikirannya.

d. Kesimpulan
Melihat hasil pembahasan diatas secara keseluruhan, pemahaman santri
terhadap Pancasila adalah positif. Mereka merasa nyaman berada di bawah Pancasila. Islam adalah agama yang nilai-nilai ajarannya tidak bertentangan dengan ideologi Pancasila, yang berkonsistensi terhadap kuatnya ketahanan ideologi santri terhadap Pancasila.

Sebagaimana dikemukakan Mannheim bahwa ideologi sebuah negara digali dan
dihayati akan kekayaan budaya bangsa, termasuk didalamnya agama. Islam sebagai
agama dengan pemeluk mayoritas tentunya menjadi sumber digalinya ideologi negara.

 

Penulis : subagjarnd